Pondok Pesantren Sidogiri : Pondok Pesantren Tertua di Jawa Timur

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak pondok pesantren. Bahkan, ada beberapa pondok pesantren yang sudah ada sejak lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Sidogiri yang terletak di Kabupaten Pasuruan. 

Pondok Pesantren Sidogiri

Pesantren pertama di Indonesia adalah pondok Pesantren Sidogiri, yang didirikan pada tahun 1718 oleh Sayyid Sulaiman dengan bantuan dari Kiai Aminullah. Pembuatan pesantren ini memiliki peran besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia melalui proses belajar mengajar.

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri

Pesantren Sidogiri didirikan oleh Sayyid Sulaiman, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari keluarga Basyaiban asal Cirebon, Jawa Barat. Ia adalah anak dari Sayyid Abdurrahman, seorang pendatang dari Hadramaut, Yaman. Ibu Sayyid Sulaiman adalah Syarifah Khodijah, putri dari Sultan Hasanuddin yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati.

Pendirian pesantren ini dimulai dengan pembersihan Desa Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur, yang dilakukan oleh Sayyid Sulaiman. Ia didukung oleh Kiai Aminullah, seorang santri dan menantu dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Saat awal berdirinya pesantren, pembelajaran hanya fokus pada ilmu agama dengan cara mengajar kitab-kitab kuning. Namun, pada tanggal 15 April 1983, KH Abdul Djalil mendirikan sistem pendidikan tradisional bernama Madrasah Miftahul Ulum (MMU).

Sistem ini muncul karena beberapa siswa tidak bisa mengikuti pelajaran agama dan membutuhkan pendidikan dasar. Sejak saat itu, MMU berkembang perlahan dan kini memiliki empat tingkatan, yaitu Idadiyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Tokoh-Tokoh Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri

Setelah mengetahui sejarah singkat tentang Pondok Pesantren Sidogiri, kita juga bisa mengenal siapa saja tokoh yang mendirikan dan mengurus pesantren tersebut. Berikut ini adalah mereka:

  • Sayyid Sulaiman

Sayyid Sulaiman adalah anak dari Abdurrahman, yang merupakan keturunan seorang ulama ternama di Tarim, Hadramaut, Yaman. Sayyid Abdurrahman dikenal alim dan memiliki kekuatan spiritual. Dari Yaman, beliau tiba di Cirebon, Jawa Barat pada pertengahan abad ke-16. Kemudian, ia menikah dengan Syarifah Khadijah, cucu dari Sunan Gunung Jati atau Raden Syarif Hidayatullah.

Dari pernikahan itu, mereka memiliki tiga anak, yaitu Sayyid Sulaiman, Sayyid Abdurrahman, dan Sayyid Abdul Karim. Sebagai keturunan ulama, Sayyid Sulaiman turut membantu menyebarkan Islam di Jawa.

Karena pengaruh dakwahnya yang dianggap mengganggu pemerintah Belanda, beliau diasingkan ke Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah. Dari sana, beliau melanjutkan pengaruhnya ke timur, terutama ke Surakarta, Jawa Tengah.

  • KH Aminullah

KH Aminullah adalah seorang ulama dan santri yang memiliki kekuatan, sekaligus menantu dari Sayyid Sulaiman, pendiri Pondok Pesantren Sidogiri. Ia turut mendirikan dan mengembangkan pesantren di Jawa Timur. KH Aminullah dikenal sebagai kaligrafer yang saleh dan rendah hati. Ia juga berhasil mengusir roh-roh halus yang tinggal di hutan Sidogiri.

Beliau adalah penerus perjuangan Sayyid Sulaiman dan berperan besar dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Menurut cerita, beliau berasal dari Hadramaut, Yaman. Ayah beliau adalah keturunan dari klan Al-Haddar, yang terkenal di dunia Islam dan berperan penting dalam menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Nusantara.

  • KH Mahalli

KH Mahalli adalah seorang ulama dan cendekiawan dari Pulau Bawean yang menjadi kepala sekolah ketiga di Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) di Pasuruan, Jawa Timur, sekitar abad ke-18 atau ke-19. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu falak. 

Ia juga membantu Kiai Aminullah mengusir jin yang tinggal di Sidogiri. Setelah menjadi kepala sekolah, KH Mahalli mengajarkan banyak ulama dan pendakwah. Ia memiliki tiga orang anak, salah satunya bernama KH Urip (Abdul Hayyi).

  • KH Abu Dzarrin

KH Abu Dzarrin adalah seorang ulama yang sangat berbakti, asal dari Pasuruan dan selama hidupnya menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Sidogiri. Beliau dikenal sangat saleh, rendah hati, dan memiliki keahlian tinggi dalam bidang nahwu-syarraf. 

Meskipun tidak banyak orang yang mengenal secara detail tentang kehidupannya, beliau hidup pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 Masehi. Beliau berasal dari keluarga sederhana namun saleh. Ayahnya bernama Sayid Hashinuddin. Selama hidupnya, KH Abu Dzarrin dikenal selalu tekun menuntut ilmu, bahkan di antara kesibukan tugasnya mengelola pesantren, beliau tetap berusaha belajar dan menimbang ilmu.

  • KH Noerhasan bin Noerkhotim

KH Noerhasan bin Noerkhotim adalah seorang ulama besar di akhir abad ke-18 yang sangat berjasa bagi Pondok Pesantren Sidogiri khususnya dan bagi perkembangan ilmu agama di Jawa Timur secara umum. Dengan memahami sejarah, kita bisa melihat kontribusi beliau yang sangat besar.

  • KH Nawawie bin Noerhasan

KH Nawawie bin Noerhasan adalah ulama yang sangat berpengaruh di Pondok Pesantren Sidogiri. Beliau menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan (Mustasyar) Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal pendirian hingga wafatnya. Beliau lahir dari pasangan KH Noerhasan bin Noerkhotim dan Nyai Hanifah. Beliau dikenal rendah hati, lembut, dan bijaksana dalam memimpin pesantren meskipun memiliki pengetahuan dan ilmu yang sangat dalam.

Kesimpulan

Itulah fakta-fakta tentang Pondok Pesantren Sidogiri, yang merupakan pesantren tertua di Indonesia dan menjadi pesantren pertama di pulau Jawa. Pesantren ini menjadi pelopor bagi banyak pesantren lainnya dan telah menghasilkan banyak tokoh penting di bumi nusantara.

Komentar