Pondok Pesantren Nurul Jadid : Pondok Pesantren Kebanggan Paiton Proboinggo

 Pondok Pesantren Nurul Jadid adalah lembaga pendidikan Islam yang terbesar dan paling tua, yang menggabungkan pendidikan Islam modern dan tradisional di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur indonesia.

Pondok Pesantren Nurul Jadid ini didirikan tiga tahun setelah Indonesia merdeka oleh Hadratussyaikh K.H. Zaini Mun'im pada tanggal 10 Muharram 1368 Hijriah, yang setara dengan 12 November 1948 Masehi. Itulah awal mula pendirian pondok pesantren ini.

Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid

Pondok ini didirikan oleh Kiai Zaini Mun'im ketika beliau tiba di Desa Karanganyar pada tanggal 10 Muharram 1948. Beliau hijrah dari Madura setelah mendapat restu dan bimbingan dari Kiai Syamsul Arifin, yang merupakan ayah dari Kiai As'ad Syamsul Arifin dari Sukorejo.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nurul Jadid, KH, mengatakan, "Saat Kiai Zaini Mun'im pertama kali datang ke sini, wilayah itu masih berupa hutan belanntara dan tanah kosong yang dihuni oleh binatang buas.

pondok pesantren nurul jadid

Sebenarnya, KH. Zaini Mun'im ingin menyebarkan agama Islam melalui Departemen Agama (Depag). Namun, harapan itu tidak terwujud karena setelah tinggal di Karanganyar, tiba-tiba datang dua orang santri untuk menuntut ilmu agama.

Kedua santri itu bernama Syafi'uddin dari Gondosuli, Karanganyar, Probolinggo, dan Saifuddin dari Sidodadi, Kecamatan Paiton, Probolinggo. KH. Zaini Mun'im merasa kedatangan mereka adalah amanah dari Allah yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tinggal bersama kedua santri tersebut.

Tidak lama kemudian, KH. Zaini Mun'im ditangkap oleh pihak Belanda dan dipenjarakan di Probolinggo. Setelah berada di Madura, beliau semakin dicari dan diawasi oleh Belanda. Pengaruhnya membuat pihak Belanda takut bahwa aktivitasnya akan memengaruhi masyarakat dan memicu perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Sementara di penjara Probolinggo, beliau terpaksa menerangkan keberadaan teman-temannya.

Meskipun dalam kondisi terpaksa, beliau tetap berusaha melindungi mereka. Ia berpegangan pada semangat "Merdeka atau Mati". Setelah tiga bulan berada di penjara, beliau dikembalikan ke desa Karanganyar.

Sejak hari itu, jumlah murid KH. Zaini Mun'im semakin bertambah. Mereka tidak hanya berasal dari Probolinggo, tetapi juga dari daerah-daerah lain seperti Madura, Situbondo, Malang, dan Bondowoso. Para murid yang tercatat saat itu antara lain Muyan, Abd. Mu'thi, Arifin, Makyar, Baidlawi, dan Jufri. Karena jumlah murid yang semakin banyak, KH. Zaini Mun'im merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan mereka.

pondok pesantren nurul jadid

Karena itu, beliau memutuskan untuk tidak ikut serta lagi dalam kegiatan teman-temannya di daerah pedalaman Yogyakarta. Dalam masa yang damai dan stabil, KH. Zaini Mun'im tiba-tiba menerima panggilan dari Menteri Agama saat itu, yaitu KH. Wahid Hasyim. Beliau diminta menjadi penasihat dalam urusan haji Indonesia. Beliau menerima tawaran tersebut.

Selain melaksanakan kewajibannya, tawaran ini juga sesuai dengan tujuan beliau untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh Indonesia melalui Kementerian Agama. Ini juga sesuai dengan moto hidup beliau, yaitu "Hidupku akan dibaktikan untuk menyebarkan dan memajukan agama Allah.

Penutup

Begitulah sejarah pondok pesantren nurul jadid paiton probolinggo, pondok pesantren yang paling tua di probolinggo dan merupakan pondok terkenal di seluruh dunia. Terimakasih telah mebaca artikel ini dengan seksama.

Komentar